Selasa, 26 Februari 2013

Aku (Tetap) Sebagai Nahdliyin, Mengapa?

Foto: Aku (Tetap) Sebagai Nahdliyin, Mengapa?

Perjalanan NU telah berumur 87 tahun. Masa yang cukup panjang, yang secara otomatis telah merasakan pahit-manis berorganisasi, baik di internal organisasi maupun perannya dalam mengisi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perjalanan NU sebagai organisasi masyarakat berbasis keagamaan telah meneguhkan dirinya selama 87 tahun. Sebuah perjalanan panjang, yang secara otomatis telah merasakan manisnya, sekalipun juga pahitnya tidak sedikit menerpa organisasi yang lebih dikenal –mengutip peneliti luar-- sebagai komunitas Islam tradisional, baik di internal organisasi maupun perannya dalam mengisi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tepatnya tanggal 31 Januari dinobatkan sebagai kelahiran NU. Pasalnya, pada tanggal yang sama tahun 1926 para pendiri NU yang bergabung dalam komite Hijaz merancang sekaligus melakukan protes terhadap penguasa Arab Saudi berideologi Wahabi untuk tetap menghormati ajaran Islam lain, terutama ajaran yang dianut oleh Islam Sunni.

Pada momentum kali ini, berbagai peringatan tahunan dilakukan baik di pusat maupun cabang-cabang dengan ragam ekspresi.

Tidak ada tujuan lain kecuali rasa syukur hingga NU sampai hari ini tetap ada. Lagi-lagi berkat ketulusan para pendiri NU dengan konsistennya menjaga keberlangsungan nilai-nilai Islam Ahl al-Sunna wa al-Jama’ah (Aswaja) di bumi nusantara dan belahan dunia pada umumnya.

Namun, dalam benak penulis terbesit pertanyaan, mengapa aku sampai hari ini tetap bertahan sebagai warga NU (Nahdliyin)? 

Pertanyaan ini sangat mungkin dialami oleh anak-anak muda NU (struktural/kultural) di tengah-tengah kehidupan beragama yang semakin kompleks, belum lagi arus global yang diakui atau tidak turut mempengarui cara pandang warga NU dalam melihat kenyataan hidup.

Kontestasi ideologis dengan komunitas Islam lain (radikal) nampaknya menjadi ancaman bagi NU. Tidak sedikit, mahasiswa yang lahir dari kultur NU akhirnya ikut-ikutan forum kecil yang jelas-jelas berafiliasi dengan Islam radikal. Belum lagi, upaya mereka merebut paksa aset-aset NU, seperti masjid dan mushallah, tanpa memperhatikan bahkan menghargai kearifan nilai-nilai lokal masyarakatnya.

Menggugat peribadatan NU makin nyaring di mana-mana, padahal harus diakui tidak jarang pelakunya adalah anak warga atau bahkan pengurus NU. Nampaknya, pragmatisme sesaat, baik finansial atau dalam bentuk beasiswa ke luar negeri, menjadi penyebab utama –bukan satu-satunya-- kader-kader NU hengkang ikut komunitas Islam radikal dan memutus mata rantai paham Aswaja melaui gugatannya kepada ritual-ritual NU, seperti pembid’ah-an pada tradisi Maulid Nabi dan lain-lain.
Perjalanan NU telah berumur 87 tahun. Masa yang cukup panjang, yang secara otomatis telah merasakan pahit-manis berorganisasi, baik di internal organisasi maupun perannya dalam mengisi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perjalanan NU sebagai organisasi masyarakat berbasis keagamaan telah meneguhkan dirinya selama 87 tahun. Sebuah perjalanan panjang, yang secara otomatis telah merasakan manisnya, sekalipun juga pahitnya tidak sedikit menerpa organisasi yang lebih dikenal –mengutip peneliti luar-- sebagai komunitas Islam tradisional, baik di internal organisasi maupun perannya dalam mengisi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tepatnya tanggal 31 Januari dinobatkan sebagai kelahiran NU. Pasalnya, pada tanggal yang sama tahun 1926 para pendiri NU yang bergabung dalam komite Hijaz merancang sekaligus melakukan protes terhadap penguasa Arab Saudi berideologi Wahabi untuk tetap menghormati ajaran Islam lain, terutama ajaran yang dianut oleh Islam Sunni.

Pada momentum kali ini, berbagai peringatan tahunan dilakukan baik di pusat maupun cabang-cabang dengan ragam ekspresi.

Tidak ada tujuan lain kecuali rasa syukur hingga NU sampai hari ini tetap ada. Lagi-lagi berkat ketulusan para pendiri NU dengan konsistennya menjaga keberlangsungan nilai-nilai Islam Ahl al-Sunna wa al-Jama’ah (Aswaja) di bumi nusantara dan belahan dunia pada umumnya.

Namun, dalam benak penulis terbesit pertanyaan, mengapa aku sampai hari ini tetap bertahan sebagai warga NU (Nahdliyin)?

Pertanyaan ini sangat mungkin dialami oleh anak-anak muda NU (struktural/kultural) di tengah-tengah kehidupan beragama yang semakin kompleks, belum lagi arus global yang diakui atau tidak turut mempengarui cara pandang warga NU dalam melihat kenyataan hidup.

Kontestasi ideologis dengan komunitas Islam lain (radikal) nampaknya menjadi ancaman bagi NU. Tidak sedikit, mahasiswa yang lahir dari kultur NU akhirnya ikut-ikutan forum kecil yang jelas-jelas berafiliasi dengan Islam radikal. Belum lagi, upaya mereka merebut paksa aset-aset NU, seperti masjid dan mushallah, tanpa memperhatikan bahkan menghargai kearifan nilai-nilai lokal masyarakatnya.

Menggugat peribadatan NU makin nyaring di mana-mana, padahal harus diakui tidak jarang pelakunya adalah anak warga atau bahkan pengurus NU. Nampaknya, pragmatisme sesaat, baik finansial atau dalam bentuk beasiswa ke luar negeri, menjadi penyebab utama –bukan satu-satunya-- kader-kader NU hengkang ikut komunitas Islam radikal dan memutus mata rantai paham Aswaja melaui gugatannya kepada ritual-ritual NU, seperti pembid’ah-an pada tradisi Maulid Nabi dan lain-lain.

Profil Kiyai Muhammad Kholil Bangkalan

Foto: Profil Kiyai Muhammad Kholil Bangkalan

K. H. Muhammad Kholil Bangkalan, Madura adalah seorang ulama sekaligus waliyulloh. Lahir bernama Muhammad Kholil. Kota Bangkalan tempat kelahirannya, kemudian dinisbahkan kepada namanya dan akhirnya dikenal dengan nama Muhammad Kholil Bangkalan.

Dari sudut manapun, kehidupannya sangat menarik untuk dibicarakan. Legenda tentang perilakunya yang penuh keajaiban banyak sekali. Kehidupannya sangat unik. Kiyai Kholil dikenal sebagai mubaligh, pemimpin pesantren, pencetak kader ulama terkemuka di Jawa Madura, juga menjalani kehidupan shuffi dan mursyid thariqat. Disamping itu, Kiyai Kholil adalah inspirator berdirinya organisasi Islam terbesar di indonesia, yang dikenal dengan nama Nahdhatul Ulama ( NU ).

Sebagai seorang pendidik yang berhasil pada zamannya, bagi kita generasi sekarang menjadi sangat penting untuk mengetahui  dan meneladani kehidupannya. Tak seorang pun meragukan ke ulamaan dan keWaliyannya. Hal ini terbukti, semua Ulama ternama yang mempunyai pesantren besar adalah hasil tempaan didikannya. Hampir semua Ulama besar Ulama abad 20 M pernah berguru kepada     K. H. M. Kholil. Demikian juga dengan kewaliyannya, banyak karomah yang dimiliki, bukti dirinya adalah kekasih/Wali Alloh SWT.

Kiyai Kholil memang suatu fenomena tersendiri. Selain ke’alimannya dalam ilmu Nahwu, Sharaf, Fiqih, dan ilmu-ilmu al-Qur’an, termasuk Qira’ah Sab’ah, juga seorang hafidz al-Qur’an.

Pukau masa terhadap Kiyai Kholil bukan karena ilmunya yang tinggi saja, tetapi lebih dari itu yaitu kemampuannya dalam hal yang tidak kasat mata. Kiyai Kholil memiliki kekuatan supranatural tinggi, waskita dan magis yang luar biasa. Sangat wajar kalau sebagian besar umat Islam meyakininya sebagai Waliyulloh di Madura. Kiyai Kholil juga mendapat gelar Syaikhuna, suatu gelar yang diperoleh setelah menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki dari Makkah ke Mesir.

Asal-Usul Kelahiran
Pada hari Ahad Pahing, tanggal 11 Jumadil Akhir 1235 H bertepatan dengan tanggal 14 Maret 1820 M, seorang Kiyai keturunan Sunan Gunung Jati bernama Abdul Latif merasakan kegembiraan yang luar biasa. Isterinya yang hamil tua melahirkan bayi laki-laki yang sehat. Rasa syukur yang membahana di jiwa K. H. Abdul Latif. Lantunan pujian dipanjatkan kepada Allah Swt. sebagai rasa syukur atas anugerah yang didapat hari itu. Sesuai ajaran Islam, K. H. Abdul Latif mengadzani telinga kanan bayi yang baru lahir itu dan mengiqamati  telinga kiri.
Bayi yang sangat diharapkan kelahirannya ini, memang sudah lama dirindukan. terbayang dalam benak K. H. Abdul Latif akan jejak leluhurnnenek moyangnya. Nenek Moyang  yang sangat berkhidmat kepada Islam di tanah Jawa, yaitu kanjeng sunan Gunung Jati. Do’a demi do’a selalu dipanjatkan. Dengan penuh harap semoga bayi ini kelak melanjutkan jejak perjuangannya yang memimpin dan memandu umat menjadi hamba Allah Swt yang sejati.

Keinginan dan cita-cita K. H. Abdul latif sangat dimaklumi. memang, nenek moyang kiyai Abdul Latif dapat ditelusuri sampai kepada Sunan Gunung Jati, salah seorang dari Wali Allah yang terkenal dengan sebutan Wali Sanga/Wali Sembilan yang terkenal. Sunan Gunung Jati sendiri lahir dari keturunan yang terhormat, baik dari jalur ayah maupun ibunya. Bapaknya seorang raja Mesir yang masih keturunan nabi Muhammad SAW, sedangkan ibunya adalah bangsawan putri dari Pajajaran.
Setelah di’aqiqahi tujuh hari dari kelahirannya, kemudian diberi nama Muhammad Kholil. Ketika Kholil dilahirkan, K.H. Abdul Latif tinggal di desa Keramat, kecamatan Bangkalan, kabupaten Bangkalan. Pada saat itu, K.H. Abdul Latif sudah menjadi seorang ulama besar dan terkenal di Bangkalan. menurut riwayat, leluhur K.H. Abdul Latif yaitu dari arah Kiyai Asror Karomah, lahir bibit-bibit unggul beberapa ulama di lingkungan madura. Dalam lingkungan keulaman inilah, K. H. Muhammad Kholil hidup, dididik dan dibesarkan.

Silsilah K. H. Muhammad Kholil Bangkalan
K. H. Muhammad Kholil Bangkalan masih keturunan Sunan Gunung Jati ( 1448-1570 ), salah seorang Wali Sanga ( Wali Sembilan ) di pulau Jawa.
Dibawah ini silsilah K. H. Muhammad Kholil Bangkalan menurut catatan resmi K. H. As’ad Syamsul Arifin ( 1897-1990 ) Sukorejo, Asembagus, Situbondo, adalah Sebagai berikut :

1.      Sunan Gunung Jati
2.      Sayyid Sulaiman Mojoagung, Jombang (  Cucu Sunan Gunung Jati )
3.      Kiyai Abdullah
4.      Kiyai Asror Karomah
5.      Kiyai muharrom
6.      kiyai Abdul Karim
7.      kiyai Hamim
8.      Kiyai Ab dul Latif
9.      kiyai Muhammad Kholil Bangkalan 

Secara geneologis, garis keturunan K. H. Muhammad Kholil Bangkalan kalau ditelusuri keatas akan terlacak bersambung kepada Rosululloh SAW. Menurut catatan K. H. Abdullah Schal, cicit K. H. Muhammad Kholil Bangkalan, adalah sebagai berikut :

1.      Sayyidatina Fatimah az-Zahro binti Rosululloh SAW, wafat di Madinah
2.      Sayyidina Husain bin Sayyidatina Fatimah az-Zahro, wafat di Karbala
3.      Sayyidina Ali Zainal Aidin, Wafat di madinah
4.      Sayyidina Muhammad Baqir, wafat di Madinah
5.      Sayyidina Ja’far Shodiq, wafat di Madinah
6.      Sayyidina Ali al-Uraidhi, wafat di Madinah
7.      Sayyidina Muhammad Naqib, wafat di Basrah
8.      Sayyidina Isa, wafat di Basrah
9.      Sayyidina Ahmad Muhajir, wafat di Hasisah
10.  Sayyidina Ubaidillah, wafat di Ardibur
11.  Sayyidina Alwi, wafat di Samal
12.  Sayyidina Muhammad, wafat di Bait Jubir
13.  Sayyidina Alwi, wafat di Bait Jubir
14.  Sayyidina Ali Kholi’ Qosam, wafat di Tarim Hadramaut
15.  Sayyidina Muhammad Shahib Mirbat, wafat di Zhifar
16.  Sayyidina Alwi, wafat di tarim hadramaut
17.  Sayyidina Abdul Malik, wafat di Hindustan
18.  Sayyidina Abdullah Azhmat Khan, wafat di Hindustan
19.  Sayyidina Ahmad Syah Jalal, wafat di Hindustan
20.  Maulana Jamaludin Akbar, wafat di Buqis
21.  maulana Ali Nuruddin, wafat di China
22.  Maulana Aminuddin Abdullah, wafat di indo China
23.  Syarif Hidayatullah  ( Sunan Gunung Jati ), wafat di Cirebon
24.  Kiyai Sulaiman, Mojo Agung, Jombang, Jawa Timur
25.  Kiyai Abdullah
26.  kiyai Asror ( Bujuk Langgundih )
27.  Kiyai Hamim
28.  Kiyai  Haji Abdul Latif
29.  Kiyai Haji Muhammad Kholil Bangkalan, Madura 

cermati kedua macam silsilah, baik dari K. H. R. As’ad Syamsul Arifin maupun K. H. Abdullah Schal terdapat keterputusan silsilah, yaitu dari Sunan Gunung jati melompat ke Sulaiman Mojoagung, Atas kebaikan Sayyid Isa bin Muhammad al-Kaff palembang, keterputusan sanad teratasi. Silsilah yang hilang adalah putri Sunan Gunung Jati yang bernama Syarifah Khodijah, istri Abdurrahman basyaiban. Sedang kan Abdurrahman basyaiban juga masih keturunan Rosululloh SAW.
Dengan demikian, dari semua data yang ada termasuk data K. H. Abdullah Schal, K. H. R. As’ad Syamsul Arifin, Sayyid Isa bin muhammad al kaff palembang, maka silsilah K. H. Muhammad Kholil dari jalur Sunan Gunung Jati selengkapnya sebagai berikut :

1.      Nabi Muhammad Rosulullah SAW
2.      Sayyidatina Fatimah az-Zahro binti Rosululloh SAW, wafat di Madinah
3.      Sayyidina Husain bin Sayyidatina Fatimah az-Zahro, wafat di Karbala
4.      Sayyidina Ali Zainal Aidin, Wafat di madinah
5.      Sayyidina Muhammad Baqir, wafat di Madinah
6.      Sayyidina Ja’far Shodiq, wafat di Madinah
7.      Sayyidina Ali al-Uraidhi, wafat di Madinah
8.      Sayyidina Muhammad Naqib, wafat di Basrah
9.      Sayyidina Isa, wafat di Basrah
10.  Sayyidina Ahmad Muhajir, wafat di Hasisah
11.  Sayyidina Ubaidillah, wafat di Ardibur
12.  Sayyidina Alwi, wafat di Samal
13.  Sayyidina Muhammad, wafat di Bait Jubir
14.  Sayyidina Alwi, wafat di Bait Jubir
15.  Sayyidina Ali Kholi’ Qosam, wafat di Tarim Hadramaut
16.  Sayyidina Muhammad Shahib Mirbat, wafat di Zhifar
17.  Sayyidina Alwi, wafat di tarim hadramaut
18.  Sayyidina Abdul Malik, wafat di Hindustan
19.  Sayyidina Abdullah Azhmat Khan, wafat di Hindustan
20.  Sayyidina Ahmad Syah Jalal, wafat di Hindustan
21.  Maulana Jamaludin Akbar, wafat di Buqis
22.  maulana Ali Nuruddin, wafat di China
23.  Maulana Aminuddin Abdullah, wafat di indo China
24.  Syarif Hidayatullah  ( Sunan Gunung Jati ), wafat di Cirebon
25.  Syarifah Khodijah binti Syarif Hidayatullah  ( Sunan Gunung Jati ) Istri Sayyid Abdurrahman basyaiban
26.  Sayyid Sulaiman, Mojoagung, Jombang
27.  Kiyai Abdullah
28.  kiyai Asror  Karomah ( Bujuk Langgundih )
29.  kiyai Muharram
30.  kiyai Abdul karim
31.  Kiyai Hamim
32.  Kiyai  Haji Abdul Latif
33.  Kiyai Haji Muhammad Kholil Bangkalan, Madura

Sedang dari jalur suami Syarifah Khadijah, Abdurrahman Basyaiban, silsilah K. H. Kholil sebagai berikut :

1.      Nabi Muhammad Rosulullah SAW
2.      Sayyidatina Fatimah az-Zahro binti Rosululloh SAW, wafat di Madinah
3.      Sayyidina Husain bin Sayyidatina Fatimah az-Zahro, wafat di Karbala
4.      Sayyidina Ali Zainal Aidin, Wafat di madinah
5.      Sayyidina Muhammad Baqir, wafat di Madinah
6.      Sayyidina Ja’far Shodiq, wafat di Madinah
7.      Sayyidina Ali al-Uraidhi, wafat di Madinah
8.      Sayyidina Muhammad Naqib, wafat di Basrah
9.      Sayyidina Isa, wafat di Basrah
10.  Sayyidina Ahmad Muhajir, wafat di Hasisah
11.  Sayyidina Ubaidillah, wafat di Ardibur
12.  Sayyidina Alwi, wafat di Samal
13.  Sayyidina Muhammad, wafat di Bait Jubir
14.  Sayyidina Alwi, wafat di Bait Jubir
15.  Sayyidina Ali Kholi’ Qosam, wafat di Tarim Hadramaut
16.  Sayyidina Muhammad Shahib Mirbat, wafat di Zhifar
17.  Sayyidina Alwi, wafat di tarim hadramaut
18.  Sayyidina faqih Muqoddam
19.   Sayyidina Ali
20.  Sayyidina Hasan At-Taroni
21.  Sayyidina Muhammad Asya’dullah
22.  Sayyidina Abu Bakar Sya’dullah
23.  Sayyidina Abdul Wahab
24.  Sayyidina Muhammad
25.  Sayyidina Umar
26.  Sayyidina Abdurrahman Basyaiban
27.  Sayyid Sulaiman, Mojoagung, Jombang
28.  Kiyai Abdullah
29.  kiyai Asror  Karomah ( Bujuk Langgundih )
30.  kiyai Muharram
31.  kiyai Abdul karim
32.  Kiyai Hamim
33.  Kiyai  Haji Abdul Latif
34.  Kiyai Haji Muhammad Kholil Bangkalan, Madura

Dari kedua versi silsilah tersebut, baik dari jalur laki-laki Abdurrahman Basyaiban, maupun jalur perempuan Syarifah Khodijah putri Sunan Gunung Jati dapat diketahui ada kesamaan bahwa leluhur K. H. Muhammad Kholil Bangkalan apabila ditarik keatas maka akan sampai kepada Nabi Muhammad Rosulullah SAW. hal ini menunjukkan kebesaran silsilah K. H. Muhammad Kholil Bangkalan bukan saja dari pihak leluhur laki-laki tapi juga  leluhur  dari pihak perempuan. Dengan demikian sangat dipahami kalau obsesi ayah K. H. Muhammad Kholil Bangkalan, yaitu K. H. Abdul Latif, ingin menjadikan anaknya sebagai pengemban amanah pelanjut estafet perjuangan dakwah islam. Kesamaan cita-cita antara ayah dan anak menciptakan suasana yang kondusif akan perkembangan pribadi K. H. Muhammad Kholil Bangkalan
-------------------------------------------------------------
Biografi Kiyai Haji Muhammad  Kholil Bangkalan, Pustaka Ciganjur, Komplek Pesantren Wahid Hasyim, Jl. Warung Silah Rt. 02, Rw. 05, No. 31, Ciganjur, Jakarta Selatan 12630. Oleh Saifur RachmanK. H. Muhammad Kholil Bangkalan, Madura adalah seorang ulama sekaligus waliyulloh. Lahir bernama Muhammad Kholil. Kota Bangkalan tempat kelahirannya, kemudian dinisbahkan kepada namanya dan akhirnya dikenal dengan nama Muhammad Kholil Bangkalan.

Dari sudut manapun, kehidupannya sangat menarik untuk dibicarakan. Legenda tentang perilakunya yang penuh keajaiban banyak sekali. Kehidupannya sangat unik. Kiyai Kholil dikenal sebagai mubaligh, pemimpin pesantren, pencetak kader ulama terkemuka di Jawa Madura, juga menjalani kehidupan shuffi dan mursyid thariqat. Disamping itu, Kiyai Kholil adalah inspirator berdirinya organisasi Islam terbesar di indonesia, yang dikenal dengan nama Nahdhatul Ulama ( NU ).

Sebagai seorang pendidik yang berhasil pada zamannya, bagi kita generasi sekarang menjadi sangat penting untuk mengetahui dan meneladani kehidupannya. Tak seorang pun meragukan ke ulamaan dan keWaliyannya. Hal ini terbukti, semua Ulama ternama yang mempunyai pesantren besar adalah hasil tempaan didikannya. Hampir semua Ulama besar Ulama abad 20 M pernah berguru kepada K. H. M. Kholil. Demikian juga dengan kewaliyannya, banyak karomah yang dimiliki, bukti dirinya adalah kekasih/Wali Alloh SWT.

Kiyai Kholil memang suatu fenomena tersendiri. Selain ke’alimannya dalam ilmu Nahwu, Sharaf, Fiqih, dan ilmu-ilmu al-Qur’an, termasuk Qira’ah Sab’ah, juga seorang hafidz al-Qur’an.

Pukau masa terhadap Kiyai Kholil bukan karena ilmunya yang tinggi saja, tetapi lebih dari itu yaitu kemampuannya dalam hal yang tidak kasat mata. Kiyai Kholil memiliki kekuatan supranatural tinggi, waskita dan magis yang luar biasa. Sangat wajar kalau sebagian besar umat Islam meyakininya sebagai Waliyulloh di Madura. Kiyai Kholil juga mendapat gelar Syaikhuna, suatu gelar yang diperoleh setelah menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki dari Makkah ke Mesir.

Asal-Usul Kelahiran
Pada hari Ahad Pahing, tanggal 11 Jumadil Akhir 1235 H bertepatan dengan tanggal 14 Maret 1820 M, seorang Kiyai keturunan Sunan Gunung Jati bernama Abdul Latif merasakan kegembiraan yang luar biasa. Isterinya yang hamil tua melahirkan bayi laki-laki yang sehat. Rasa syukur yang membahana di jiwa K. H. Abdul Latif. Lantunan pujian dipanjatkan kepada Allah Swt. sebagai rasa syukur atas anugerah yang didapat hari itu. Sesuai ajaran Islam, K. H. Abdul Latif mengadzani telinga kanan bayi yang baru lahir itu dan mengiqamati telinga kiri.
Bayi yang sangat diharapkan kelahirannya ini, memang sudah lama dirindukan. terbayang dalam benak K. H. Abdul Latif akan jejak leluhurnnenek moyangnya. Nenek Moyang yang sangat berkhidmat kepada Islam di tanah Jawa, yaitu kanjeng sunan Gunung Jati. Do’a demi do’a selalu dipanjatkan. Dengan penuh harap semoga bayi ini kelak melanjutkan jejak perjuangannya yang memimpin dan memandu umat menjadi hamba Allah Swt yang sejati.

Keinginan dan cita-cita K. H. Abdul latif sangat dimaklumi. memang, nenek moyang kiyai Abdul Latif dapat ditelusuri sampai kepada Sunan Gunung Jati, salah seorang dari Wali Allah yang terkenal dengan sebutan Wali Sanga/Wali Sembilan yang terkenal. Sunan Gunung Jati sendiri lahir dari keturunan yang terhormat, baik dari jalur ayah maupun ibunya. Bapaknya seorang raja Mesir yang masih keturunan nabi Muhammad SAW, sedangkan ibunya adalah bangsawan putri dari Pajajaran.
Setelah di’aqiqahi tujuh hari dari kelahirannya, kemudian diberi nama Muhammad Kholil. Ketika Kholil dilahirkan, K.H. Abdul Latif tinggal di desa Keramat, kecamatan Bangkalan, kabupaten Bangkalan. Pada saat itu, K.H. Abdul Latif sudah menjadi seorang ulama besar dan terkenal di Bangkalan. menurut riwayat, leluhur K.H. Abdul Latif yaitu dari arah Kiyai Asror Karomah, lahir bibit-bibit unggul beberapa ulama di lingkungan madura. Dalam lingkungan keulaman inilah, K. H. Muhammad Kholil hidup, dididik dan dibesarkan.

Silsilah K. H. Muhammad Kholil Bangkalan
K. H. Muhammad Kholil Bangkalan masih keturunan Sunan Gunung Jati ( 1448-1570 ), salah seorang Wali Sanga ( Wali Sembilan ) di pulau Jawa.
Dibawah ini silsilah K. H. Muhammad Kholil Bangkalan menurut catatan resmi K. H. As’ad Syamsul Arifin ( 1897-1990 ) Sukorejo, Asembagus, Situbondo, adalah Sebagai berikut :

1. Sunan Gunung Jati
2. Sayyid Sulaiman Mojoagung, Jombang ( Cucu Sunan Gunung Jati )
3. Kiyai Abdullah
4. Kiyai Asror Karomah
5. Kiyai muharrom
6. kiyai Abdul Karim
7. kiyai Hamim
8. Kiyai Ab dul Latif
9. kiyai Muhammad Kholil Bangkalan

Secara geneologis, garis keturunan K. H. Muhammad Kholil Bangkalan kalau ditelusuri keatas akan terlacak bersambung kepada Rosululloh SAW. Menurut catatan K. H. Abdullah Schal, cicit K. H. Muhammad Kholil Bangkalan, adalah sebagai berikut :

1. Sayyidatina Fatimah az-Zahro binti Rosululloh SAW, wafat di Madinah
2. Sayyidina Husain bin Sayyidatina Fatimah az-Zahro, wafat di Karbala
3. Sayyidina Ali Zainal Aidin, Wafat di madinah
4. Sayyidina Muhammad Baqir, wafat di Madinah
5. Sayyidina Ja’far Shodiq, wafat di Madinah
6. Sayyidina Ali al-Uraidhi, wafat di Madinah
7. Sayyidina Muhammad Naqib, wafat di Basrah
8. Sayyidina Isa, wafat di Basrah
9. Sayyidina Ahmad Muhajir, wafat di Hasisah
10. Sayyidina Ubaidillah, wafat di Ardibur
11. Sayyidina Alwi, wafat di Samal
12. Sayyidina Muhammad, wafat di Bait Jubir
13. Sayyidina Alwi, wafat di Bait Jubir
14. Sayyidina Ali Kholi’ Qosam, wafat di Tarim Hadramaut
15. Sayyidina Muhammad Shahib Mirbat, wafat di Zhifar
16. Sayyidina Alwi, wafat di tarim hadramaut
17. Sayyidina Abdul Malik, wafat di Hindustan
18. Sayyidina Abdullah Azhmat Khan, wafat di Hindustan
19. Sayyidina Ahmad Syah Jalal, wafat di Hindustan
20. Maulana Jamaludin Akbar, wafat di Buqis
21. maulana Ali Nuruddin, wafat di China
22. Maulana Aminuddin Abdullah, wafat di indo China
23. Syarif Hidayatullah ( Sunan Gunung Jati ), wafat di Cirebon
24. Kiyai Sulaiman, Mojo Agung, Jombang, Jawa Timur
25. Kiyai Abdullah
26. kiyai Asror ( Bujuk Langgundih )
27. Kiyai Hamim
28. Kiyai Haji Abdul Latif
29. Kiyai Haji Muhammad Kholil Bangkalan, Madura

cermati kedua macam silsilah, baik dari K. H. R. As’ad Syamsul Arifin maupun K. H. Abdullah Schal terdapat keterputusan silsilah, yaitu dari Sunan Gunung jati melompat ke Sulaiman Mojoagung, Atas kebaikan Sayyid Isa bin Muhammad al-Kaff palembang, keterputusan sanad teratasi. Silsilah yang hilang adalah putri Sunan Gunung Jati yang bernama Syarifah Khodijah, istri Abdurrahman basyaiban. Sedang kan Abdurrahman basyaiban juga masih keturunan Rosululloh SAW.
Dengan demikian, dari semua data yang ada termasuk data K. H. Abdullah Schal, K. H. R. As’ad Syamsul Arifin, Sayyid Isa bin muhammad al kaff palembang, maka silsilah K. H. Muhammad Kholil dari jalur Sunan Gunung Jati selengkapnya sebagai berikut :

1. Nabi Muhammad Rosulullah SAW
2. Sayyidatina Fatimah az-Zahro binti Rosululloh SAW, wafat di Madinah
3. Sayyidina Husain bin Sayyidatina Fatimah az-Zahro, wafat di Karbala
4. Sayyidina Ali Zainal Aidin, Wafat di madinah
5. Sayyidina Muhammad Baqir, wafat di Madinah
6. Sayyidina Ja’far Shodiq, wafat di Madinah
7. Sayyidina Ali al-Uraidhi, wafat di Madinah
8. Sayyidina Muhammad Naqib, wafat di Basrah
9. Sayyidina Isa, wafat di Basrah
10. Sayyidina Ahmad Muhajir, wafat di Hasisah
11. Sayyidina Ubaidillah, wafat di Ardibur
12. Sayyidina Alwi, wafat di Samal
13. Sayyidina Muhammad, wafat di Bait Jubir
14. Sayyidina Alwi, wafat di Bait Jubir
15. Sayyidina Ali Kholi’ Qosam, wafat di Tarim Hadramaut
16. Sayyidina Muhammad Shahib Mirbat, wafat di Zhifar
17. Sayyidina Alwi, wafat di tarim hadramaut
18. Sayyidina Abdul Malik, wafat di Hindustan
19. Sayyidina Abdullah Azhmat Khan, wafat di Hindustan
20. Sayyidina Ahmad Syah Jalal, wafat di Hindustan
21. Maulana Jamaludin Akbar, wafat di Buqis
22. maulana Ali Nuruddin, wafat di China
23. Maulana Aminuddin Abdullah, wafat di indo China
24. Syarif Hidayatullah ( Sunan Gunung Jati ), wafat di Cirebon
25. Syarifah Khodijah binti Syarif Hidayatullah ( Sunan Gunung Jati ) Istri Sayyid Abdurrahman basyaiban
26. Sayyid Sulaiman, Mojoagung, Jombang
27. Kiyai Abdullah
28. kiyai Asror Karomah ( Bujuk Langgundih )
29. kiyai Muharram
30. kiyai Abdul karim
31. Kiyai Hamim
32. Kiyai Haji Abdul Latif
33. Kiyai Haji Muhammad Kholil Bangkalan, Madura

Sedang dari jalur suami Syarifah Khadijah, Abdurrahman Basyaiban, silsilah K. H. Kholil sebagai berikut :

1. Nabi Muhammad Rosulullah SAW
2. Sayyidatina Fatimah az-Zahro binti Rosululloh SAW, wafat di Madinah
3. Sayyidina Husain bin Sayyidatina Fatimah az-Zahro, wafat di Karbala
4. Sayyidina Ali Zainal Aidin, Wafat di madinah
5. Sayyidina Muhammad Baqir, wafat di Madinah
6. Sayyidina Ja’far Shodiq, wafat di Madinah
7. Sayyidina Ali al-Uraidhi, wafat di Madinah
8. Sayyidina Muhammad Naqib, wafat di Basrah
9. Sayyidina Isa, wafat di Basrah
10. Sayyidina Ahmad Muhajir, wafat di Hasisah
11. Sayyidina Ubaidillah, wafat di Ardibur
12. Sayyidina Alwi, wafat di Samal
13. Sayyidina Muhammad, wafat di Bait Jubir
14. Sayyidina Alwi, wafat di Bait Jubir
15. Sayyidina Ali Kholi’ Qosam, wafat di Tarim Hadramaut
16. Sayyidina Muhammad Shahib Mirbat, wafat di Zhifar
17. Sayyidina Alwi, wafat di tarim hadramaut
18. Sayyidina faqih Muqoddam
19. Sayyidina Ali
20. Sayyidina Hasan At-Taroni
21. Sayyidina Muhammad Asya’dullah
22. Sayyidina Abu Bakar Sya’dullah
23. Sayyidina Abdul Wahab
24. Sayyidina Muhammad
25. Sayyidina Umar
26. Sayyidina Abdurrahman Basyaiban
27. Sayyid Sulaiman, Mojoagung, Jombang
28. Kiyai Abdullah
29. kiyai Asror Karomah ( Bujuk Langgundih )
30. kiyai Muharram
31. kiyai Abdul karim
32. Kiyai Hamim
33. Kiyai Haji Abdul Latif
34. Kiyai Haji Muhammad Kholil Bangkalan, Madura


Dari kedua versi silsilah tersebut, baik dari jalur laki-laki Abdurrahman Basyaiban, maupun jalur perempuan Syarifah Khodijah putri Sunan Gunung Jati dapat diketahui ada kesamaan bahwa leluhur K. H. Muhammad Kholil Bangkalan apabila ditarik keatas maka akan sampai kepada Nabi Muhammad Rosulullah SAW. hal ini menunjukkan kebesaran silsilah K. H. Muhammad Kholil Bangkalan bukan saja dari pihak leluhur laki-laki tapi juga leluhur dari pihak perempuan. Dengan demikian sangat dipahami kalau obsesi ayah K. H. Muhammad Kholil Bangkalan, yaitu K. H. Abdul Latif, ingin menjadikan anaknya sebagai pengemban amanah pelanjut estafet perjuangan dakwah islam. Kesamaan cita-cita antara ayah dan anak menciptakan suasana yang kondusif akan perkembangan pribadi K. H. Muhammad Kholil Bangkalan
-------------------------------------------------------------
Biografi Kiyai Haji Muhammad Kholil Bangkalan, Pustaka Ciganjur, Komplek Pesantren Wahid Hasyim, Jl. Warung Silah Rt. 02, Rw. 05, No. 31, Ciganjur, Jakarta Selatan 12630. Oleh Saifur Rachman

Tujuh Tempat Dilarang Shalat

Beberapa syarat sahnya shalat diantaranya adalah memakai pakaian yang suci dari najis, menghadap ke kiblat dan tempat yang suci, boleh saja seseorang menjalankan shalat ditempat manapun asalkan tempat tersebut suci dari najis, entah di rumah, di sekolahan, apartemen, kos-kosan dan lain-lain.

Tetapi ada beberapa tempat yang dikecualikan untuk tidak menjalankan shalat ditempat tersebut, sebagaimana yang telah di nash dalam sebuah hadits riwayat dari Ibnu Umar,

أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى أن يصلي في سبع مواطن: المزبلة، والمجزرة، والمقبرة، وقارعة الطريق، والحمام، ومعاطن الإبل، وفوق ظهر بيت الله تعالى

Sesungguhnya Rasulullah saw melarang menunaikan shalat tujuh tempat; tempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan (hewan), kuburan, di tengah-tengah jalan, di kamar mandi, di kandang unta dan di atas (bangunan) ka’bah.

Larangan shalat di tujuh tempat ini tentunya memerlukan alasan, bagaimana tempat-tempat tersebut mendapat larangan dari syara’, Pertama adalah larangan shalat ditempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan hewan, kamar mandi dan kandang unta dikarenakan terdapat banyak najisnya; seperti kotoran-kotoran, darah, tempat berkumpulnya para setan yang bisa mengganggu kekhusyuan dalam shalat dan lain-lain, sehingga tempat tersebut terkena najis dan menjadi tidak suci. Kedua adalah larangan shalat ditengah-tengah jalan yang dilalui oleh orang, karena bisa mempersempit jalan dan mengganggu orang-orang yang sedang lewat. Ketiga larangan shalat di kuburan agar terhindar dari penyembahan terhadap kuburan. Keempat larangan shalat diatas ka’bah, karena tidak dapat menghadap ke kiblat, akan tetapi hanya menghadap sebagiannya saja, karena sebagian yang lain berada dibelakang punggungnya. Seperti penjelasan dalam kitab subulussalam,

وقيل المقبرة والمجزرة والمزبلة والحمام للنجاسة، وقارعة الطريق قيل لأن فيه حقا للغير فلا تصح الصلاة فيها واسعة كانت أو ضيقة لعموم النهي، ومواطن الإبل بأنها مأوى الشياطين، وفوق ظهر بيت الله فإنه إذا لم يستقبل بطلت الصلاة لعدم الشرط لا لكونها على ظهر الكعبة

Dikatakan bahwa larangan shalat dikuburan, tempat penyembelihan, tempat pembuangan sampah dan kamar mandi adalah dikarenakan terdapat najis, untuk shalat ditengah-tengah jalan karena disitu terdapat hak-hak orang lain (pejalan), maka tidak sah shalat ditempat tersebut, entah jalan itu luas maupun sempit Karen keumuman hadits, untuk kandan unta dikarenakan itu adalah tempat berkumpulnya setan, sedangkan untuk shalat diatas ka’bah dikarenakan tidak terpenuhinya menghadapat kiblat.

Demikian tempat-tempat yang dilarang untuk shalat.

Cara Kyai Kampung menghadapi Santri TOP

Inilah kisah kiai kampung. Kebetulan kiai kampung ini menjadi imam musholla dan sekaligus pengurus ranting NU di desanya. Suatu ketika didatangi seorang tamu, mengaku santri liberal, karena lulusan pesantren modern dan pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Tamu itu begitu PD (Percaya Diri), karena merasa mendapat legitimasi akademik, plus telah belajar Islam di tempat asalnya. Sedang yang dihadapi hanya kiai kampung, yang lulusan pesantren salaf.

Tentu saja, tujuan utama tamu itu mendatangi kiai untuk mengajak debat dan berdiskusi seputar persoalan keagamaan kiai. Santri liberal ini langsung menyerang sang kiai:

” Sudahlah Kiai tinggalkan kitab-kitab kuning (turats) itu, karena itu hanya karangan ulama kok. Kembali saja kepada al-Quran dan hadits ” ujar santri itu dengan nada menantang.

Belum sempat menjawab, kiai kampung itu dicecar dengan pertanyaan berikutnya.

” Mengapa kiai kalau dzikir kok dengan suara keras dan pakai menggoyangkan kepala ke kiri dan ke kanan segala. Kan itu semua tidak pernah terjadi pada jaman nabi dan berarti itu perbuatan bid’ah? ” kilahnya dengan nada yakin dan semangat.

Mendapat ceceran pertanyaan, kiai kampung tak langsung reaksioner. Malah sang kiai mendengarkan dengan penuh perhatian dan tak langsung menanggapi. Malah kiai itu menyuruh anaknya mengambil termos dan gelas.

Kiai tersebut kemudian mempersilahkan minum, tamu tersebut kemudian menuangkan air ke dalam gelas. Lalu kiai bertanya:

“Kok tidak langsung diminum dari termos saja. Mengapa dituang ke gelas dulu? ” tanya kiai santai.

Kemudian tamu itu menjawab ” Ya ini agar lebih mudah minumnya kiai,? jawab santri liberal ini.

Kiai pun memberi penjelasan ” Itulah jawabannya mengapa kami tidak langsung mengambil dari al-Quran dan hadits. Kami menggunakan kitab-kitab kuning yang mu’tabar, karena kami mengetahui bahwa kitab-kitab mu’tabarah adalah diambil dari al-Quran dan hadits, sehingga kami yang awam ini lebih gampang mengamalkan wahyu, sebagaimana apa yang engkau lakukan menggunakan gelas agar lebih mudah minumnya, bukankah begitu? ” Tamu tersebut terdiam tak berkutik.

Kemudian kiai balik bertanya ” Apakah adik hafal al-Quran dan sejauhmana pemahaman adik tentang al-Quran? Berapa ribu adik hafal hadits? Kalau dibandingkan dengan Imam Syafi’iy siapa yang lebih alim? ”

Santri liberal ini menjawab ” Ya tentu Imam Syafi’iy kiai sebab beliau sejak kecil telah hafal al-Qur’an, beliau juga banyak mengerti dan hafal ribuan hadits, bahkan umur 17 beliau telah menjadi guru besar dan mufti ” jawab santri liberal.

Kiai menimpali ” Itulah sebabnya mengapa saya harus bermadzhab pada Imam Syafi’iy, karena saya percaya pemahaman Imam Syafi’iy tentang al-Qur’an dan hadits jauh lebih mendalam dibanding kita, bukankah begitu? “tanya kiai.

” Ya kiai ” jawab santri liberal.

Kiai kemudian bertanya kepada tamunya tersebut ” Terus selama ini orang-orang awam tatacara ibadahnya mengikuti siapa jika menolak madzhab, sedangkan mereka banyak yang tidak bisa membaca al-Qur’an apalagi memahami ?” tanya kiai.

Sang santri liberal menjawab ” Kan ada lembaga majelis yang memberi fatwa yang mengeluarkan hukum-hukum dan masyarakat awam mengikuti keputusan tersebut ” jelas santri liberal.

Kemudian kiai bertanya balik ” Kira-kira menurut adik lebih alim mana anggota majelis fatwa tersebut dengan Imam Syafi’iy ya? ”

Jawab santri ” Ya tentu alim Imam Syafi’iy kiai ” jawabnya singkat.

Kiai kembali menjawab ” Itulah sebabnya kami bermadzhab Imam Syafi’iy dan tidak langsung mengambil dari al-Qur’an dan hadits ”

” Oh begitu masuk akal juga ya kiai ” jawab santri liberal ini.

Tamu yang lulusan Timur Tengah itu setelah tidak berkutik dengan kiai kampung, akhirnya minta ijin untuk pulang dan kiai itu mengantarkan sampai pintu pagar.

Sumber : Majalah Risalah NU no.3

Sejarah Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (BANSER)

Foto: Sejarah Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (BANSER)

Tahun 1924 dengan berlatar belakang pada berdirinya organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, Jong Celebes berdiri organisasi kepemudaan Syubbanul Wathan yang berarti Pemuda Tanah Air yang berdiri di bawah panji Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dan dipimpin oleh Abdullah Ubaidmelalui media khusus telah memiliki anggota 65 orang. Perkembangan selanjutnya Subbanul Wathan disambut baik oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser) sebagai elemen unsur pemuda sehingga ratusan pemuda mencatatkan diri sebagai anggota, karena aktifitas organisasi ini menyentuh kepentingan dan kebutuhan pemuda saat itu.

Karena Subbanul Wathan telah diterima baik oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser) pemuda maka membentukorganisasi kepanduan yang diberi nama Ahlul Wathan (Pandu Tanah Air) sebagai inspektur umum kwartir Imam Sukarlan Suryoseputro. Kelanjutan perkembangan organisasi ini sampai apada masalah-masalah Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang menitikberatkan pada aspek kebangsaan dan pembelaan tanah air.

Setelah Nahdlatul Ulama (NU) berdiri (31 Januari 1926) kegiatan organisasi agak mengendor karena beberapa orang pengurusnya aktif dan disibukkan untuk mengurus organisasi NU.

Atas dasar pemikiran dan upaya Abdullah Ubaid dan Thohir Bakri pada tahun 1930 mengembangkan dan membangun organisasi yang berpengaruh di tingkat nasional yang diberi nama Nahdlatus Subban (Kebangkitan Pemuda), yang dipimpin oleh Umar Burhan.

Dengan latar belakang pengarahan KH. Abdul Wahab (guru besar kaum muda waktu itu) beliau menyebut beberapa ayat suci Al-Qur’an yang mengisahkan kesetiaan para sahabat Al-Khawariyyin yang tidak kepalang tanggung menolong perjuangan para Nabi menyiarkan ajaran Islam dengan pengorbanan lahir maupun batin, mereka tampil sebagai pejuang yang tangguh dalam membela dan membentengi perjuangan Islam, kemudian Nabi memberi nama penghormatan kepda mereka dengan sebutan Ansor yang berarti mereka yang menolong. Kemudian pada tanggal 24 April 1934 berdirilah organisasi ANO yang berarti Ansoru Nahdlatul Oelama yang dimaksudkan dapat mengambil berkah (Tabarrukan) atas semangat perjuangan para sahabat Nabi dalam memperjuangkan dan membela serta menegakkan agama Allah. Diharapkan kelak senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar sahabat ansor yang selalu bertindak dan bersikap sebagai pelopor dalam memberikan pertolongan untuk menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen yang seharusnya senantiasa dipegang teguh oleh para anggota Gerkan Pemuda Ansor.

Melalui kongres I tahun 1936, Kongres II Tahun 1937 dan Kongres III tahun 1938 memutuskan ANO mengadakan Barisan Berseragam yang diberi nama Banoe (Barisan Nahdlatul Oelama) dengan merinci jenis riyadloh yang diperbolehkan:
1. Pendidikan baris berbaris
2. Latihan Lompat dan Lari
3. Latihan angkat mengangkat
4. Latihan ikat mengikat (Pioner)
5. Fluit Tanzim (belajar kode/isyarat suara)
6. Isyarat dengan bendera (morse)
7. Perkmpungan dan perkemahan
8. Beljar menolong kecelakaan (PPPK)
9. Musabaqoh Fil Kholi (Pacuan Kuda)
10. Muromat (melempar lembing dan cakram)

Dari perkembangan-perkembangan yang terjadi inilah maka ANO kemudian menjadi Gerakan Pemuda Ansor dan Banoe menjadi Barisan Ansor Serbaguna atau disingkat dengan Banser. (Hernoe)

http://gp-ansor.org/banser/sejarah-banserTahun 1924 dengan berlatar belakang pada berdirinya organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, Jong Celebes berdiri organisasi kepemudaan Syubbanul Wathan yang berarti Pemuda Tanah Air yang berdiri di bawah panji Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dan dipimpin oleh Abdullah Ubaidmelalui media khusus telah memiliki anggota 65 orang. Perkembangan selanjutnya Subbanul Wathan disambut baik oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser) sebagai elemen unsur pemuda sehingga ratusan pemuda mencatatkan diri sebagai anggota, karena aktifitas organisasi ini menyentuh kepentingan dan kebutuhan pemuda saat itu.

Karena Subbanul Wathan telah diterima baik oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser) pemuda maka membentukorganisasi kepanduan yang diberi nama Ahlul Wathan (Pandu Tanah Air) sebagai inspektur umum kwartir Imam Sukarlan Suryoseputro. Kelanjutan perkembangan organisasi ini sampai apada masalah-masalah Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang menitikberatkan pada aspek kebangsaan dan pembelaan tanah air.

Setelah Nahdlatul Ulama (NU) berdiri (31 Januari 1926) kegiatan organisasi agak mengendor karena beberapa orang pengurusnya aktif dan disibukkan untuk mengurus organisasi NU.

Atas dasar pemikiran dan upaya Abdullah Ubaid dan Thohir Bakri pada tahun 1930 mengembangkan dan membangun organisasi yang berpengaruh di tingkat nasional yang diberi nama Nahdlatus Subban (Kebangkitan Pemuda), yang dipimpin oleh Umar Burhan.

Dengan latar belakang pengarahan KH. Abdul Wahab (guru besar kaum muda waktu itu) beliau menyebut beberapa ayat suci Al-Qur’an yang mengisahkan kesetiaan para sahabat Al-Khawariyyin yang tidak kepalang tanggung menolong perjuangan para Nabi menyiarkan ajaran Islam dengan pengorbanan lahir maupun batin, mereka tampil sebagai pejuang yang tangguh dalam membela dan membentengi perjuangan Islam, kemudian Nabi memberi nama penghormatan kepda mereka dengan sebutan Ansor yang berarti mereka yang menolong. Kemudian pada tanggal 24 April 1934 berdirilah organisasi ANO yang berarti Ansoru Nahdlatul Oelama yang dimaksudkan dapat mengambil berkah (Tabarrukan) atas semangat perjuangan para sahabat Nabi dalam memperjuangkan dan membela serta menegakkan agama Allah. Diharapkan kelak senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar sahabat ansor yang selalu bertindak dan bersikap sebagai pelopor dalam memberikan pertolongan untuk menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen yang seharusnya senantiasa dipegang teguh oleh para anggota Gerkan Pemuda Ansor.

Melalui kongres I tahun 1936, Kongres II Tahun 1937 dan Kongres III tahun 1938 memutuskan ANO mengadakan Barisan Berseragam yang diberi nama Banoe (Barisan Nahdlatul Oelama) dengan merinci jenis riyadloh yang diperbolehkan:
1. Pendidikan baris berbaris
2. Latihan Lompat dan Lari
3. Latihan angkat mengangkat
4. Latihan ikat mengikat (Pioner)
5. Fluit Tanzim (belajar kode/isyarat suara)
6. Isyarat dengan bendera (morse)
7. Perkmpungan dan perkemahan
8. Beljar menolong kecelakaan (PPPK)
9. Musabaqoh Fil Kholi (Pacuan Kuda)
10. Muromat (melempar lembing dan cakram)

Dari perkembangan-perkembangan yang terjadi inilah maka ANO kemudian menjadi Gerakan Pemuda Ansor dan Banoe menjadi Barisan Ansor Serbaguna atau disingkat dengan Banser. (Hernoe)

http://gp-ansor.org/banser/sejarah-banser

Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy'ari

Foto: Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy'ari 
( Pendiri Nahdlatul Ulama' 1875-1947).

Tanpa ada resolusi jihad dari beliau, tak mungkin rakyat Surabaya mau melawan sekutu,
tanpa ada laskar santri hizbullah dari beliau, tak mungkin negri ini punya tentara,
tapi anehnya semuanya itu tidak masuk dalam kurikukulum sejarah negri ini.

Beliau adalah Ulama Karismatik yang  Rahmatan lil 'alamiin,
Beliau membela negara menggunakan agama, BUKANYA melawan Negara menggunakan Agama.

Husushan ila ruuhi KH. Hasyim Asy'ari, Al fatihah ~

Monggo ditag, diunduh, dishare atau copi
jangan lupa pake kode
 @#[120416661356120:]
hilangkan tanda #
untuk menjadi FP Dukung NU Mendirikan TV NU Nusantara
agar tmn2 anda sukai juga FP iniHadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy'ari
( Pendiri Nahdlatul Ulama' 1875-1947).

Tanpa ada resolusi jihad dari beliau, tak mungkin rakyat Surabaya mau melawan sekutu,
tanpa ada laskar santri hizbullah dari beliau, tak mungkin negri ini punya tentara,
tapi anehnya semuanya itu tidak masuk dalam kurikukulum sejarah negri ini.

Beliau adalah Ulama Karismatik yang Rahmatan lil 'alamiin,
Beliau membela negara menggunakan agama, BUKANYA melawan Negara menggunakan Agama.

Husushan ila ruuhi KH. Hasyim Asy'ari, Al fatihah ~


Selasa, 19 Februari 2013

Menyesatkan Orang Lain, Kemusyrikan Paling Besar

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Mas’udi mengimbau warga NU untuk tetap setia dengan prinsip tasammuh (toleransi) dengan tidak mudah menisbatkan kata”sesat” pada pihak lain.

”Menyesatkan orang lain sama saja dengan memosisikan dirinya sebagai hakim keyakinan yang seharusnya hanya dimiliki Allah,” katanya dalam pembukaan Rapat Pimpinan Daerah Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) Kota Cirebon, Rabu (13/2), di Masjid Hijau Pegambiran, Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Kiai Masdar merujuk surat an-Nahl ayat (93) yang menyebutkan bahwa keanegaragaman umat merupakan kehendak Allah, melalui otoritas penuh untuk menyesatkan dan memberi petunjuk mereka.

Dengan demikian, sambungnya, orang yang menyesatkan pada dasarnya telah musyrik, karena telah mengambil otoritas Tuhan untuk dirinya. ”Dan tidak ada dosa yang lebih besar dibanding memusyirkan dirinya dengan Allah,” kata Kiai Masdar.

Di hadapan hadirin, alumni Pesantren Krapyak ini juga mengajak untuk tidak menjadikan masjid sebagai ruang eksklusif yang menanamkan intoleransi. Sebab, dengan konsep pembagian ruang dalam dan ruang serambi, masjid sesungguhnya merupakan bangunan yang terbuka.

Ruang serambi, demikian Kiai Masdar, harus dimaksimalkan perannya sebagai tempat berdiskusi dan memecahkan berbagai persoalan umat, termasuk menghidarkan dari paham yang terlalu dogmatis.
”Dogma bisa dicairkan jika serambi itu diperdayakan,” tegasnya.